Tema : Sumber Daya Manusia yang Berkualitas
Marilah bersama-sama kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Pengasih, yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua sehingga pada pada pagi yang cerah ini kita dapat berkumpul di gedung yang megah ini dalam keadaan sehat wal’afiat.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, kebesarannya sudah dikenal oleh masyarakat dunia sejak zaman Majapahit dan Sriwijaya. Kini, sebagai bangsa besar yang jumlah penduduknya terbesar keempat di dunia (setelah China, India, dan Amerika) tentu saja ingin menjadi bangsa maju. Kenyataannya memang demikian, sejak dahulu bangsa kita sudah bercita-cita ingin maju seperti bangsa-bangsa yang telah maju lebih dulu, seperti bangsa Jepang, Jerman, dan lain-lain. Terwujudnya cita-cita itu bukan turun dari langit, tetapi harus melalui kerka keras dari manusia-manusia berkualitas.
Manusia berkualitas dapat menciptakan alat-alat pertanian modern. Apabila dulu bangsa kita masih menggunakan cangkul atau bajak yang menarik lembu untuk mengolah tanah, sekarang sudah banyak menggunakan traktor. Dengan traktor itu, petani dapat mebgolah tanah dengan mudah dan cepat. Hasil olahannya pun lebih bagus. Demikian pula bibit-bibit unggul ditemukan, obat-obatan pembasmi hama dibuat, dan pupuk penyubur tanaman diproduksi. Hasil panennya, tentu saja berlipat ganda.
Dalam bidang produksi, bangsa Indonesia sudah lama memulainya. Bermacam-macam industri dibangun. Bahkan, pada tahun 1976 bangsa Indonesia sudah membangun industri pesawat terbang yang berada di Bandung. Dengan membangun industri pesawat terbang itu bangsa Indonesia mencoba dan bertekad dapat terbang dengan pesawat buatan sendiri. Walau itu banyak orang meragukannya. Apa bisa?
Ternyata, putra-putri Indonesia mampu menghasilkan pesawat terbang. Sudah banyak pesawat terbang buatan Indonesia yang dipakai sendiri dan dibeli bangsa lain. Lebih hebat lagi, bangsa Indonesia yang dipelopori oleh Industri Pesawat Terbang Indonesia pada tahun 1996 sudah mampu mengejutkan dunia dengan menyelenggarakan Indonesia Air Show ’96 atau Pameran Kedirgantaraan 1996. waktu itu masyarakat tersentak kagum. Warga manca Negara pun mengakui bahwa putra putrid Indonesia telah mampu membuat pesawat CN 250 yang dinilai paling canggih di kelasnya. Pesawat itu diberi nama Gatotkca. Nama yang sangat tepat karena CN 250 memang perkasa dan lincah yang meliuk-liuk di angkasa seperti Raden Gatotkaca yang diceritakan oleh ki dalang wayang kulit.
Waktu Prof. Dr. B.J Habibie, pelopor dalam industri pesawat terbang, berkata mantap , “Great Leap Forward”. Ungkapan bahasa Inggris itu kemudian amat terkenal. Apa artinya? Loncatan Teknologi yang Tinggi. Memang benar, dalam industri pesawat terbang ini bangsa Indonesia telah melakukan loncatan jauh ke depan. Kita tahu bahwa pesawat terbang mulus karena perpaduan berbagai bidang teknologi yang serba puncak. Mesinnya kelas wahid. System elektroniknya kelas satu. System komunikasinya paling canggih. Bahan pesawatnya bagaimana? Badan pesawat dirancang bukan hanya berdasarkan keindahan bentuk, melainkan juga diperhitungkan dari segi-segi lain yang menungkinkan dapat terbang mulus dan handal.
Siapa yang dapat melakukan itu semua? Apakah semua orang dapat melakukannya? Tidak. Sekali lagi, tidak. Hanya orang-orang yang berkualitaslah yang mempu membuat pesawat terbang. Hanya manusia terdidik yang mampu membuta pesawat terbang.
Pendidikan memang memainkan peran yang amat penting dalam meningkatkan sumber daya manusia berkualitas. Saying, dalam bidang pendidikan Negara kita masih tertinggal jauh. Universitas-universitas kita yang ternama, masih dibawah Universitas lain di luar negeri yang disana termasuk universitas sedang-sedang saja. Itulah sebabnya, warga Indonesia yang mampu biayanya memilih bersekolah di luar negeri. Sayang, jumlahnya belum banyak disbandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih gari dua ratus juta ini.
Berbeda dengan Negara tetangga kita Malaysia, misalnya. Sejak dulu pemerintah Malaysia sudah berusaha mengirimkan pemuda-pemudinya sebanyak-banyaknya “merebut” ilmu di luar negeri. Waktu itu, pemuda-pemudi Malaysia yang belajar di luar negeri banyaknya sepuluh kali dari jumlah pemuda-pemudi Indonesia yang beruntung belajar keluar negeri. Padahal, penduduk Indonesia berlipat-lipat jauh lebih banyak daripada penduduk Malaysia. Apa akibatnya? Sekarang Malaysia sudah jauh lebih maju daripada kita, karena manusia berkualitas yang lebih banyak.
Sungguh menyedihkan, dulu banyak guru Indonesia diminta datang mengajar penduduk Malaysia, sekarang kita harus belajar dari sana. Dulu cara bertani kita dicontoh oleh petani Malaysia, sekarang kita yang mencontoh mereka. Ini semua membuktikan bahwa sumber daya manusia kita sudah jauh tertinggal.
Buah duku buah manggis
Di cuci dulu baru dimakan
Jatah waktu sudah habis
Pidato saya cukup sekian